Gowes WBR di Kelurahan Nambangan Lor, Plt Wali Kota Soroti Disabilitas hingga Lansia Ngebrok

Gowes WBR di Kelurahan Nambangan Lor, Plt Wali Kota Soroti Disabilitas hingga Lansia Ngebrok
  • Kategori Berita
  • Oleh Diskominfo
  • 18 Sep 2026
  • 16 kali dilihat

Gowes WBR di Kelurahan Nambangan Lor, Plt Wali Kota Soroti Disabilitas hingga Lansia Ngebrok

MADIUN - Giat Wali Kota Bersama Rakyat (WBR) kembali digelar. Kali ini, giliran wilayah Kelurahan Nambangan Lor yang menjadi sasaran. Seperti pola WBR sebelumnya, kegiatan diawali dengan gowes menyusuri wilayah untuk melihat langsung berbagai persoalan yang membutuhkan intervensi.


Sejumlah persoalan menjadi perhatian Plt Wali Kota Madiun F. Bagus Panuntun. Mulai dari kebutuhan warga disabilitas, lansia yang sudah tidak mampu beraktivitas secara mandiri atau ngebrok, hingga persoalan lingkungan berupa pengerukan sungai. Berbagai temuan tersebut langsung dikoordinasikan bersama OPD terkait untuk dicarikan solusi.


Khusus penanganan disabilitas, Plt wali kota meminta jajaran kelurahan mencatat secara detail kebutuhan masing-masing warga. Menurutnya, kondisi dan kebutuhan setiap penyandang disabilitas berbeda. Karena itu, bantuan yang diberikan tidak bisa disamaratakan.


‘’Saya minta teman-teman mencatat apa yang jadi kebutuhan. Karena masing-masing disabilitas ini kebutuhannya berbeda. Jadi jangan hanya diberikan bantuan makanan, tetapi peralatan penunjangnya juga harus disesuaikan dengan standar dan kebutuhan mereka,’’ tegasnya, Jumat (18/9).


Perhatian serupa diberikan kepada lansia ngebrok. Plt wali kota meminta Pekerja Sosial Masyarakat (PSM), RT, lurah, hingga lingkungan sekitar ikut memantau kondisi lansia yang sudah tidak mampu beraktivitas secara mandiri. Pendampingan di rumah dinilai penting dengan tetap melihat kondisi dan dukungan keluarga.


Terkait bantuan Rp8 juta per tahun bagi lansia ngebrok, pemanfaatannya akan disesuaikan dengan kebutuhan masing-masing penerima. Bantuan tersebut tidak serta-merta diberikan dalam bentuk uang, tetapi diarahkan agar benar-benar digunakan untuk memenuhi kebutuhan warga.


‘’Angkanya tetap, tapi kebutuhannya kita sesuaikan. Jadi tidak langsung uang diserahkan. Bagi saya, kalau langsung diberikan uang tetapi tidak sesuai kebutuhan, ini tidak menyentuh apa yang jadi kebutuhan,’’ terangnya.


Tak hanya persoalan sosial, WBR juga meninjau persoalan lingkungan. Salah satunya pengerukan sungai yang ditemukan memiliki titik penghambat aliran air. Pengerukan akan dilakukan dari sisi selatan menuju utara dan diperkirakan membutuhkan waktu sekitar dua bulan. Pekerjaan juga membutuhkan pembongkaran pagar jembatan agar alat berat dapat masuk.


Pengerukan menjadi langkah awal penanganan, sementara penambahan pompa direncanakan pada tahun berikutnya. Pemerintah juga mendorong keterlibatan lembaga amil zakat, termasuk Baznas, untuk turun langsung melihat kondisi penerima manfaat. Dengan begitu, intervensi yang diberikan dapat lebih tepat sasaran dan sesuai kebutuhan warga. (ws hendro/kus/diskominfo)

Awak Sigap