MADIUN – Kota Madiun kembali mengalami inflasi untuk Mei kemarin. Namun, besaran inflasi sedikit menurut dibanding bulan sebelumnya. Inflasi selama Mei lalu tercatat 0,58 persen. Sedang, untuk mei di angka 0,97 persen. Wali Kota Madiun, Maidi menyebut inflasi ini dikarenakan tingginya permintaan namun barang yang dicari terbatas. Hal itu salah satunya karena banyaknya pengunjung yang masuk Kota Madiun dan berbelanja di sini.

‘’Inflasi kalau terlalu tinggi memang tidak bagus. Kita inflasi tetapi masih dalam batas normal. Kita ambil segi positifnya, bahwa inflasi ini salah satunya karena banyak yang datang dan berbelanja di sini sehingga permintaan barang tinggi tetapi barang jadi terbatas,’’ kata wali kota saat High Level Marketing (HLM) Tim Pengendali Inflasi Daerah (TPID) Kota Madiun di Aston Hotel, Senin (6/6).

Wali kota menyebut Kota Madiun memang banyak dikunjungi selama Mei lalu. Salah satunya, karena libur lebaran. Pun, pemerintah juga memperbolehkan mudik. Di Kota Madiun juga terdapat Festival Pecel Pincuk event untuk menarik pemudik dan wisatawan. Tak heran tingkat kunjungan meningkat. Hal lain dibuktikan dengan meningkatnya produksi sampah dari 110 ton menjadi 170 ton setiap harinya.

‘’Kalau deflasi juga tidak baik. Barang terlalu di pasaran sedang daya beli masyarakat rendah. Akhirnya barang jadi murah. Jadi harus tetap dipertahankan di tengah. Ekonomi tetap menggeliat tetapi harga masih terjangkau,’’ jelasnya.

Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Dwi Yuhenny menyebut makanan, minuman, dan tembakau menjadi penyumbang inflasi tertinggi di Kota Madiun untuk Mei jika dilihat dari kelompok pengeluaran. Setidaknya, ada sebelas kelompok pengeluaran dalam mengukur inflasi. Selain Mamin dan tembakau, ada juga kelompok perawatan pribadi, transportasi, perumahan, pakaian, dan lainnya. Manin dan tembakau menyumbang hingga 1,20 persen dengan besaran andil 0,32 persen.

‘’Angka inflasi 0,58 persen ini memang masih normal untuk hitungan bulanan. Tetapi kalau terus di kisaran itu dan diakumulasi dalam satu tahun, tingkat inflasi bisa dikatakan tinggi. Karenanya, normalnya inflasi tidak boleh lebih dari 10 persen dalam setahun,’’ jelasnya.

Selain kepala OPD terkait, dalam HLM TPID tersebut juga dihadiriri Kepala Kantor Perwakilan Bank Indonesia Kediri Moch. Choirur Rofiq. Dia menuturkan, inflasi di tanah air juga berkaitan dengan kondisi internasional. Salah satunya, perang Rusia-Ukraina. Selain itu, masa setelah Covid-19 juga memicu meningkatkan permintaan barang, Kondisi inflasi ini juga terjadi hampir di seluruh daerah di tanah air. Bahkan, untuk di Jawa Timur semua daerah tercatat mengalami inflasi. (nanda/agi/diskominfo)