MADIUN – Tidak hanya secara agama, prosesi khitan atau sunat telah menjadi budaya bagi masyarakat Indonesia. Biasanya, praktek ini dilakukan kepada anak laki-laki yang sudah cukup umur. Namun, ada pula yang melakukannya saat bayi, bahkan dewasa.

Seiring berjalannya waktu, teknologi sunat pun mengalami peningkatan. Mulai dari durasi yang semakin cepat, minim rasa sakit, hingga proses penyembuhan yang semakin cepat.

Hal inipun menjadi perhatian Wali Kota Madiun Maidi. “Teknologi yang semakin canggih ini harus kita kembangkan sampai sempurna. Sehingga, dengan alat-alat yang modern ini anak tidak takut disunat,” tuturnya saat memberikan sambutan dalam Simposium Sejarah Budaya Sunat Indonesia di Hotel Merdeka, Minggu (6/2).

Melalui simposium ini, wali kota juga berharap ilmu pengetahuan yang dimiliki para peserta bisa semakin bertambah. Maka, akan semakin menyempurnakan teknologi khitan di masa depan.

Lebih lanjut, wali kota mengatakan, pihaknya senantiasa mendukung berbagai kegiatan masyarakat. Salah satunya, khitan massal. Yakni, dengan menyediakan rumah dinas wali kota sebagai lokasi pelaksanaan.

Selain itu, wali kota juga membiayai anak-anak kurang mampu yang ingin dikhitan. Dengan begitu, diharapkan kesehatan masyarakat tetap terjaga.

“Karena khitan ini tidak hanya wajib secara agama, tapi juga untuk menjaga kesehatan maka warga yang sudah waktunya dikhitan harus segera dilaksanakan. Kalau tidak ada biaya, saya yang mengkhitankan,” tandasnya. (Luki/irs/diskominfo)