YOGYAKARTA – Laju pertumbuhan ekonomi Kota Madiun sudah on the track. Terbukti pertumbuhan ekonomi Kota Pendekar tertinggi di wilayah kerja Perwakilan Bank BI Kediri 2019 lalu. Pertumbuhan ekonomi Kota Madiun menyentuh 5,69 persen dengan tingkat inflasi hanya 0,38 persen. Capaian ini diikuti Kota Kediri di peringkat kedua. Tak heran walikota kedua daerah diminta menjadi narasumber sebagai percontohan daerah lain saat High Level Meeting Pimpinan Daerah Kabupaten Kota se-Wilayah Kerja Kantor Perwakilan Bank Indonesia Kediri di hotel Marriott Yogyakarta, Selasa (3/3).
 
Walikota Madiun Maidi menyebut sektor perdagangan menyumbang 26,06 persen dari Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) Kota Madiun selama tahun tersebut. Industri pengolahan berada diurutan kedua dengan menyumbang 17,83 persen. Komunikasi dan informasi serta pariwisata dipenyumbang selanjutnya dengan kontribusi berkisar 15,72 persen. 
 
Walikota menambahkan pertumbuhan ekonomi juga dapat dilihat dari permintaan pasar akan barang kebutuhan. Walikota sengaja meminta data produsen terkait untuk memastikan hal itu. Mulai Pertamina yang mengalami pelonjakan BBM dan LPG sebesar 13 persen, pelonjakan listrik PLN sebesar 17 persen, hingga minimarket yang mengalami peningkatan transaksi sebesar 30 persen. 
 
“Sampah kita juga mengalami peningkatan dari 90 ton sehari menjadi 120 ton dalam sehari. Artinya, ada pertumbuhan ekonomi di sana,” jelasnya.
 
Pelonjakan tersebut bukan datang begitu saja. Berbagai upaya dilakukan pemerintah setempat. Di antaranya, menciptakan titik ekonomi baru, pembinaan pelaku usaha, hingga kemudahan perizinan pada investor. Seperti diketahui, Kota Madiun memiliki Sunday Market sejak pertengahan 2019 lalu. Pasar minggu di Taman Lalu Lintas Bantaran Kali Madiun itu sudah menyedot 13 ribu pengunjung dengan 700 pedagang setiap kali gelaran. Pemerintah Kota Madiun juga membangun titik-titik baru tahun ini. Mulai pelanjutan trotoar Jalan Pahlawan, sentra kuliner, hingga rintisan PeceLand. Tempat-tempat baru tersebut diyakini akan menyedot wisatawan dan mendongkrak perekonomian. 
 
“Pembinaan kepada pelaku usaha bukan hanya pelatihan dan bantuan modal. Tetapi mereka juga kita ajak untuk studi banding ke daerah lain,” ungkapnya sembari menyebut studi banding PKL ke Kota Semarang beberapa waktu lalu.
 
Hadirnya investor, kata walikota, juga harus mendatangkan manfaat bagi masyarakat. Salah satunya, penghapusan retribusi bagi seribu lebih pedagang kaki lima. Investor juga wajib menjadi pembina pelaku usaha kecil dengan memberikan tempat usaha. 
 
“Pola-pola ini terus kita tingkatkan untuk meramaikan kota. Kota yang ramai akan meningkatkan perekonomian untuk kesejahteraan masyarakat,” pungkasnya. 
 
Kepala Kantor Perwakilan Bank Indonesia Kediri Sofyan Kurnia menyebut kegiatan dalam rangka pengendalian inflasi dan akselerasi pertumbuhan ekonomi di Jawa Timur khususnya wilayah kerja BI Kediri. Kegiatan sengaja menghadirkan kepala daerah di wilayah kerja sebagai evaluasi dan menyusun strategi ke depan. Pihaknya sengaja meminta Walikota Madiun dan Kediri untuk memberikan paparan terkait gambaran laju ekonomi dan inflasi di daerah masing-masing. Sebab, kedua daerah dinilai cukup berhasil dalam menekan laju inflasi dan meningkatkan ekonomi. 
 
“Inflasi ini sangat penting. Sebab, menjadi salah satu tolok ukur investor untuk berinvestasi. Rakor ini penting untuk membahas hal tersebut,” ujarnya. (ws hendro/agi/diskominfo)