MADIUN – Masyarakat Kota Madiun cukup beragam. Tercatat lebih dari 200 ribu jiwa dengan belasan suku bangsa yang tinggal di kota pecel ini. Begitu juga Agama dan Kepercayaan. Namun, kebersamaan tetap terjalin dalam keberagaman tersebut. Kondisi apik ini terus ditingkatkan dengan berbagai upaya. Terbaru, Sarasehan Tokoh Agama dan Tokoh Masyarakat digelar Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) Kota Madiun, Sabtu (22/12). Harapannya, meningkatkan kerukunan serta mengantisipasi segala macam bentuk ancaman kondusifitas di kota pecel.

‘’Keamanan merupakan objek pembangunan. Kalau aman pembangunan berjalan lancar. Saya rasa ini satu langkah yang baik,’’ kata Walikota Madiun Sugeng Rismiyanto saat membuka sarasehan di Ballroom Sun Hotel itu.

Apalagi, Indonesia sedang punya gawe besar. Yakni, pileg dan pilpres 2019. Pemungutan suara 17 Arpil 2019 nanti. Namun, tahapannya sudah mulai dari sekarang. Mereka yang akan bertarung sudah mulai berlomba merebu simpatik masyarakat selama tahapan kampanye sekarang ini. Tentu beragam potensi konflik sosial mengemuka. Terutama yang berkaitan dengan suku, agama, ras, dan antar golongan (SARA). Walikota berharap masyarakat tidak mudah terpengaruh dengan isu-isu yang dapat menimbulkan konflik tersebut.

‘’Tema Sinergistas Kerukunan Tokoh Agama dan Tokoh Masyarakat Menuju Kota Madiun Kondusif Menjelang Pilpres dan Pileg 2019 ini harus menjadi pengingat dan pelecut semangat. Jangan mau bercerai berai hanya karena kepentingan sesaat,’’ jelasnya.

Kondusifitas, lanjutnya, tetap lebih penting. Tanpa kondisi yang aman pembangunan tak dapat berjalan. Keamanan butuh peran bersama tanpa memandang suku, agama, rasa, maupun golongannya. Walikota mangajak untuk saling menghormati dan menghargai. Dia mengingatkan kembali perjuangan para pahlawan dulu dalam merebut kemerdekaan yang juga tanpa membeda-bedakan suku, agama, rasa, dan golongan. Masyarakat, lanjutnya, juga harus mengedepankan ini dalam upaya mengisi kemerdekaan sekarang ini.

‘’Bangsa ini sudah sering digunjang konflik sosial sejak kemerdekaan dulu. Penyebabnya beragam. Mulai politik, suku, golongan, dan agama. Kita semua harus belajar dari sejarah. Jangan sampai terulang. Masyarakat juga nantinya yang akan dirugikan,’’ pungkasnya.

Kegiatan dihadiri sekitar 100 lebih tokoh agama dan masyarakat dalam sarasehan. Mulai Tokoh Agama Konghucu, Hindu, Budha, Khatolik, Kristen, dan Islam serta Penghayat Kepercayaan. (ws hendro/agi/diskominfo)

#100ThMadiun
#KotaKarismatikMadiun
#IndonesiaBicaraBaik