MADIUN – Siapa sangka jika Jawa Timur bagian barat, menyimpan beragam kebudayaan menarik. Kesan romantis, mistis, dan filosofis seakan tepat untuk menggambarkan tlatah (wilayah) budaya Mataraman.

Paduan antara Jawa, Hindu dan Islam bercampur dalam satu kawasan sepanjang Jombang hingga Madiun bagian barat.

Keberagaman budaya itulah yang coba disajikan dalam Festival Budaya Mataraman yang digelar di Balaikota Madiun pada Jum’at (9/11).

Berikut adalah kesenian-kesenian yang sukses memanjakan mata masyarakat Kota Karismatik. Seperti apa sih cerita dibalik tiap kesenian yang dipertunjukkan hari ini?

OLAH MEDIUNAN
Mengadopsi gerakan dasar pencak silat yang menjadi budaya khas Kota Madiun. Lenggak-lenggok kesenian ini dinilai bisa merepresentasikan karakteristik kota Karismatik.

KESENIAN DONGKREK
Berasal dari Mejayan, Kabupaten Madiun. Tarian dengan iringan musik menghentak ini mengisahkan upaya Raden Ngabei Lo Prawirodipuro dalam mengatasi masa pageblug mayangkoro. Ceritanya dikemas dengan gerakan menghibur.

PENTHUL TEMBEM
Berbicara tentang kesenian yang ada di Kota Madiun tak kan ada habisnya. Kesenian satu ini menceritakan perjalanan Raden Ngabehi Ronggowarsito di kala muda.

Pencak Silat
Salah satu kebanggaan kota Madiun adalah Pencak Silatnya. Beladiri asli nusantara ini telah berjaya mengharumkan nama bangsa di Asian Games 2018.
Setelah ratusan tahun berkembang, keberadaannya menjadi ikon dari Kota Pendekar ini.

TARI OREK OREK
Tarian ini menceritakan muda-mudi masyarakat desa. Setelah bekerja berat, gotong royong, mereka melakukan tarian gembira ria untuk melepas lelah.

KETHEK OGLENG
Mengisahkan tentang seekor kera jelmaan Raden Gunung Sari dalam cerita Panji. Dalam upayanya mencari Dewi Sekartaji yang menghilang dari istana. Untuk mengelabuhi penduduk agar bebas keluar masuk desa dan hutan, maka Raden Gunung Sari menjelma jadi seekor kera putih yang lincah dan lucu.

REYOG PONOROGO
Kesenian yang sudah mendunia namanya ini, memiliki nilai filosofis yang mendalam. Tarian pertama biasanya dibawakan oleh enam sampai delapan pria gagah berani dengan pakaian serba hitam, dan muka dipoles warna merah. Para penari ini menggambarkan sosok singa yang pemberani.

Berikutnya adalah tarian yang dibawakan oleh enam sampai delapan gadis yang menaiki kuda. Pada reog tradisionil, penari ini biasanya diperankan oleh penari laki-laki yang berpakaian wanita. Tarian ini dinamakan tari jaran kepang atau jathilan, yang harus dibedakan dengan seni tari lain yaitu tari kuda lumping.

TARI BEDHOYO DEWI SRI
Memiliki kesan magis dan religius. Adalah kesan yang menggambarkan tarian ini. Pasalnya tarian ini menceritakan peperangan dan tari yang mengandung cerita (drama).

Menarik bukan? Jadi bangga dong pastinya dengan keragaman budaya yang dimiliki oleh Kota Madiun.
(WS Hendro/kus/madiuntoday)

sumber: http://madiuntoday.id