• Sarana


  • Upacara Hardiknas Kota Madiun 2010

    Upacara peringatan Hari Pendidikan Nasional ( Hardiknas ) tingkat Kota Madiun tahun 2010 dilaksankan di halaman Depan Pemerintah Kota Madiun Senin (3/5). Tema peringatan tahun ini adalah Pendidikan Karakter Untuk membangun Keberadaban Bangsa. Upacara tersebut dihadiri oleh jajaran muspida, Ketua DPRD serta anggota, kepala dinas/badan kantor/Camat/Kepala Sekolah serta diikuti PNS khususnya Struktural dan perwakilan pelajar Kota Madiun. Pada Upacara ini juga diserahkan bantuan bea siswa bagi siswa berpretasi tingkat nasional maupun propinsi serta bantuan siswa kurang mampu oleh BAZ juga untuk pondok pesantren.
    Dalam kesempatan Walikota Madiun H. Bambang Irianto,SH,MM selaku inspektur upacara membacakan sambutan tertulis Menteri Pendidikan Nasional (Mendiknas) Mohammad Nuh. Mendiknas dalam amanatnya mengatakan peringatan Hardiknas ini merupakan hari yang mempunyai makna bagi seluruh pemangku kepentingan pendidikan selain untuk mengenang jasa Bapak Pendidikan Nasional Ki Hajar Dewantara.
    “Ada tiga makna penting peringatan hari besar nasional, seperti hal nya hardiknas sekarang ini” ujar Mendiknas. Tiga hal tersebut adalah pertama terkait dengan momentum untuk merenungkan dan merefleksikan diri terhadap perjalanan panjang yang telah dilalui. Hal yang kedua adalah untuk mengintrospeksi diri dalam menjalankan berbagai program pendidikan supaya cita cita luhur pendidikan nasional terus terjaga. Sedangkan yang ketiga adalah
    bagaimana kita memprespektifkan apa yang telah dan sedang dilakukan untuk masa depan yang lebih baik, sebagaimana dicantumkan dalam konstitusi kita untuk mencerdaskan bangsa.
    Lebih lanjut Mendiknas menjelaskan bahwa Hardiknas bukan hanya diperingati untuk kegiatan seremonial belaka, tapi justru untuk lebih memompa semangat. Peringatan Hardiknas harus terus menerus dikumandangkan dan dilakukan rekontekstualitas sesuai dengan masanya.
    Pendidikan menurut Ki Hadjar Dewantara, merupakan daya upaya untuk memajukan bertumbuhnya budi pekerti (kekuatan batin, karakter), pikiran (intellect), dan tubuh anak. Bagian-bagian itu tidak boleh dipisahkan agar kita dapat memajukan kesempurnaan hidup anak-anak. Kesempurnaan tersebut pulalah yang menjadikan kata kunci kejujuran.
    Dunia pendidikan diharapkan sebagai motor penggerak untuk memfasilitasi pembangunan karakter. Pembangunan karakter dan pendidikan karakter menjadi suatu keharusan, karena pendidikan tidak hanya menjadikan peserta didik menjadi cerdas juga mempunyai budi pekerti dan sopan santun, sehingga keberadaannya sebagai anggota masyarakat menjadi bermakna baik bagi dirinya maupun masyarakat pada umumnya.
    Mohammad Nuh kembali mengingatkana apa yang pernah dikatakan Presiden SBY tentang pentingnya pendidikan karekter. Beliau mengatakan apabila ingin membangun manusia Indonesia yang berakhlak, berbudi pekerti, dan berperilaku baik serta memiliki peradaban yang unggul dan mulia. Peradaban demikian dapat kita capai apabila masyarakat kita juga merupakan masyarakat yang baik (good society). Dan, masyarakat idaman seperti ini dapat kita wujudkan manakala manusia-manusia Indonesia adalah manusia yang berakhlak dan berwatak baik, manusia yang bermoral dan beretika baik, serta manusia yang bertutur dan berperilaku baik pula.
    Bangsa yang berkarakter unggul, disamping tercermin dari moral, etika dan budi pekerti yang baik, juga ditandai dengan semangat, tekad dan energi yang kuat, dengan pikiran yang positif dan sikap yang optimis, serta dengan rasa persaudaraan, persatuan dan kebersamaan yang tinggi. Totalitas dari karakter bangsa yang kuat dan unggul, yang pada kelanjutannya bisa meningkatkan kemandirian dan daya saing bangsa, menuju Indonesia yang maju, bermartabat dan sejahtera di Abad 21 ini.