• Sarana


  • Sukirah perempuan dari Kota Madiun yang Mengaku Berusia 108 Tahun

    Kulitnya sudah keriput. Begitu juga dengan rambutnya yang sudah memutih serta giginya yang terlihat ompong. Namun, nada bicaranya masih jelas dan tegas. Bahkan, pendengarannya juga masih normal. Itulah sosok Sakirah, ibu tujuh anak, wraga Jalan Imam Bonjol, Kota Madiun. Saya lahir sak durunge motor mabur onok (Saya lahir sebelum pesawat terbang ada), hal itu diceritakan Sukirah.
    Berdasarkan pendataan Badan Pusat Stastistik (BPS) Kota Madiun, Sakirah diketahui sebagai perempuan tertua ’sementara’ di Kota Madiun. Umur Sakirah diperkirakan mencapai 108 tahun. Setidaknya, ini berdasarkan pengalaman hidup Sakirah yang merasakan penjajahan Belanda dan Jepang. ”Pernah ngalami dijajah wong Londo, jaman iku aku wis duwe anak. Anakku tambah sakwise jaman Jepang (Pernah mengalami dijajah Belanda, saat itu saya sudah punya anak. Anak saya bertambah saat zaman penjajahan Jepang).

    Sayang, Sukirah tidak mampu menyebutkan tanggal maupun tahun kelahirannya. Sebab dirinya tidak pernah mengenyam pendidikan sehingga tidak bisa baca tulis. ”Kulo mboten sekolah. Saestu umur kulo sakduwure satus tahun. Malah kiro-kiro wis 110 mlaku (Saya tidak sekolah, tapi umur saya benar di atas 100 tahun. Malah kurang lebih jalan 110 tahun, Red),” terangnya.
    Sukirah memiliki tujuh anak. Sedangkan cucunya mencapai 23 orang. Selain itu, Sakirah juga memiliki 17 cicit dan delapan canggah. Semua garis keturunannya tersebar di pulau Jawa. Biasanya mereka menjenguk Sakirah saat liburan maupun Hari Raya Idul Fitri atau Lebaran. ”Yogo mbajeng kulo sampun tilar. Sami kalihan garwo kulo Pak Sumo Sakiran. Bapake anak-anak meninggal tahun 1980-an (Anak pertama saya sudah meninggal. Seperti suami saya Pak Sumo Sakiran meninggal sekitar tahun 1980-an, Red),” jelas Sakirah.

    Di usia tuanya, Sakirah tinggal bersama anak keenamnya di Jalan Imam Bonjol. Sehari-hari Sakirah masih bisa membantu menjaga toko maupun olahraga pagi selepas salat Subuh. Perempuan ini juga rutin salat malam. ”Kula jarang loro, amergi senang olahraga (saya jarang sakit karena senang olahraga, Red),” tuturnya.
    Sukirah mengaku tidak memiliki rahasia khusus agar awet muda dan selalu sehat. Hanya saja, sejak dulu dia selalu mengatur pola makan dan membuat pikirannya selalu tenang. Sakirah hanya makan dengan lauk tempe dan tahu serta sayur-sayuran. Dia menolak segala macam ikan, telur maupun daging. ”Ma’eme mboten macem-macem, pikiran kulo nggih senang mawon (Makanan saya nggak aneh-aneh, saya juga selalu berfikir positif), jelasnya.
    Hasil pendataan BPS tersebut membuat Setyawati, cucu dari anak keenam Sakirah kaget. Dia tidak menyangka, neneknya telah berusia lebih dari 100 tahun. Maklum, Sukirah hingga kini masih sehat dan terbiasa jalan pagi. Selain itu, Sukirah juga tidak pernah merepotkan anggota keluarganya. Mbah tinggal di rumah ibu sejak tahun 1980, saya juga nggak tahu kapan mbah lahir. Sekarang yang tinggal di desa Dempelan tinggal adik Mbah Sukirah yang umurnya 90 tahunan.
    Sementara itu, Siti Romlah, warga Jalan Pendowo yang semula juga diduga sebagai salah satu perempuan tertua di Kota Madiun ternyata tidak benar. Petugas BPS Kota Madiun telah melakukan kroscek ulang, ternyata Siti Romlah baru berusia 89 tahun. ”Kita sudah melakukan pendataan umur ulang, ternyata ada kesalahan penulisan tahun lahir,” ujar Marheningrum, Kasi Distribusi BPS Kota Madiun.
    (sumber radar madiun)